“DPR bukan taman kanak-kanak lagi tetapi sudah melorot menjadi Play Group…”

Masih ingatkah kita dengan kritik di atas. Sebuah sindiran pedas lagi maknyus yang dilontarkan KH. Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur saat terjadi Perseteruan Koalisi Kebangsaan dan Koalisi Kerakyatan pada Oktober 2004. Meski dengan kadar tak tepat 100 %, setidaknya kita bisa menyandarkan bayangan kita pada riuhnya aksi rebut kursi Cawapres (RI-2) yang tengah santer diperbincangkan pada kartun/karikatur di atas.

Coba kita manjakan memori kita untuk membelai sebuah realitas kekanak-kanakan yang: sedikit lucu, banyak bermain, menggelikan, bahkan (bagi sebagian orang) justru menjengkelkan.

Karikatur/kartun dalam postingan ini rasanya menjadi suara yang tengah riuh akhir-akhir ini. Seriuh para aktor ketoprak yang tengah berkepentingan berlaga, demi memperoleh simpati dan dukungan massa. Dan tak jarang untuk merebutnya musti harus main jurus ‘dewa mabok’, geol sana-geol sini, PDKT sana-PDKT sini, koalisi sana-koalisi sini, lempar sindir sana-sini, bahkan (maaf) ‘jilat’ sana-‘jilat’ sini.

Untung saja, penonton ketoprak di negeri ini ‘santun-santun’. Mereka sering (ter/di-paksa) diam demi menyilahkan para aktor ketoprak memainkan perannya, meski tak sesuai dengan skenario rakyat.

Jika anak-anak saja berebut sesuatu musti sambil berantem, bagaimana kalau yang rebutan anak-anak play group? Selamat menyaksikan aksi perebutan ini.